Jika Istri lebih Sukses dari Suami




Jika Istri Lebih Sukses dari Suami
Pada dasarnya setiap wanita menginginkan pasangan yang lebih baik dari dirinya sendiri. Lebih penyabar, lebih santun, lebih soleh dan tentunya lebih mapan dan memiliki karier serta penghasilan yang lebih tinggi. Tetapi kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan pasangan dimana  istri lebih sukses dalam karier maupun keuangan dibanding suaminya. Bisa saja pada saat awal menikah atau pada saat jatuh cinta sepasang kekasih sama-sama mengawali karier dari start yang sama. Tetapi seiring berjalannya waktu karakter dasar seseorang akan menentukan kesuksesannya dalam karier,  keuangan dan kehidupan bersosialisasi. Wanita dikenal cenderung lebih ulet dan lebih supel dari laki-laki. Sehingga tidak heran kalau sekarang ini kita mudah menemukan seorang istri yang lebih baik kariernya atau lebih maju usahanya dari suaminya.
Apakah akan menjadi masalah jika penghasilan istri lebih baik dari penghasilan suami? Baik penghasilan suami maupun penghasilan istri adalah pintu rejeki bagi keluarga. Seharusnya sesuatu yang harus di syukuri jika penghasilan keluarga lebih baik sekalipun rejeki tersebut datangnya lewat pintu istri. Tetapi ternyata kesuksesan seorang istri tidak selalu membawa kebaikan bagi keluarga. Seorang laki-laki sudah memiliki sifat dasar yang berbeda dengan wanita. Seorang laki-laki sejak lahir sudah cenderung lebih diutamakan dalam keluarga. Sejak laki-laki menikah, dari segi agama dan pandangan masyarakat, suami sudah di nobatkan sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Karena suami adalah pemimpin dalam keluarga maka cenderung suami dituntut harus lebih sukses dari istri. Berawal dari pemahaman inilah kemudian masalah bisa timbul jika istri lebih sukses dari suami.
Seorang suami akan merasa tidak nyaman jika karier istrinya lebih tinggi. Identitasnya sebagai pencari nafkah dan pemimpin keluarga akan terancam. Hal ini akan lebih buruk lagi jika istri tidak menunjukkan rasa hormatnya kepada suami karena menganggap suami gagal sebagai kepala rumah tangga.
Lantas bagaimana meminalisir masalah dan membuat suami tetap nyaman sekalipun karier istri lebih baik dari suami? Tips  dibawah ini mungkin bisa membantu jika istri pada posisi lebih tinggi dari suami :
  1. Istri jangan pernah lupa dengan kodratnya.
Kebanyakan istri bekerja adalah karena keinginan diri sendiri bukan karena permintaan suami. Seorang istri yang bisa bekerja dengan leluasa di luar rumah, pantas untuk berterima kasih kepada suami yang telah memberi ijin. Oleh karena itu selelah apapun istri bekerja diluar rumah, seorang istri tidak bisa meninggalkan tugas-tugas nya sebagai istri. Membersihkan rumah, menyediakan  makanan, mengurus anak, dan melayani kebutuhan suami sudah menjadi kewajiban istri. Sebaiknya istri jangan mengeluh jika merasa lelah dan kewalahan melakukan pekerjaan rumah tangga dan mencari nafkah. Jalani saja dengan rasa syukur dengan mengajak suami diskusi supaya mau terlibat dengan urusan rumah tangga.
Contoh ini bisa kita lihat pada diri seorang wanita yang kariernya lebih sukses dari suaminya.  Yaitu Margaret Thatcher perdana menteri inggris di tahun 1979 hingga 1990 yang dikenal dengan julukan “The Iron Lady” tiap malam memasak sendiri untuk suaminya Denis Thatcher. (sumber : Lima Fakta di Balik ke Tangguhan si Wanita Besi-  National Geographic Indonesia)
  1. Teruslah menempatkan posisi suami sebagai kepala rumah tangga
Adakalanya saat penghasilan istri lebih besar dari suami, istri suka lupa menggunakan penghasilannya untuk keperluan rumah tangga tanpa berdiskusi dengan suami. Membeli perabot rumah atau bepergian tanpa ijin suami. Hal ini tentu bisa membuat suami merasa tidak di hargai. Oleh karena itu, sebaiknya istri mengajak suami diskusi terlebih dahulu jika ingin keluar rumah atau melakukan perubahan-perubahan di rumah tangga. Bisa saja istri menganggap bahwa duit yang digunakannya adalah duitnya sendiri, lalu melakukan  perjanjian-perjanjian kerja dan perubahan-perubahan di dalam rumah tanpa terlebih dahulu  memberitahu suami. Contoh yang bisa di lihat : istri membeli perabot rumah tangga tanpa menanyakan suami apakah perabot itu cocok di letakkan diruang tamu atau tidak. Jadi istri jangan bertindak sendiri sekalipun duit yang digunakan adalah duitnya sendiri.
  1. Istri harus bisa menahan diri dan mensyukuri apa yang sudah dimiliki.
Sifat materialistis biasanya lebih banyak di miliki wanita. Kita sering melihat seorang karyawati di tengah kesibukannya masih bisa menawarkan barang dagangan atau menjadi agent di salah satu bisnis MLM. Wanita cenderung tidak cepat puas sehingga begitu gigih mengejar karier. Seorang istri seharusnya pintar membaca situasi di rumah tangga. Jika suami kelihatan tidak nyaman dengan kesuksesan istri, harusnya istri bisa menahan diri untuk tidak terus melangkah mewujudkan minpi-mimpinya. Istri harus bisa menahan ambisi dan hasrat untuk terus maju jika suami sudah tidak nyaman dengan kesuksesan istri. Bagaimanapun keutahan rumah tangga harusnya menjadi yang terutama.
Tentu tidak mudah melakukan tips diatas. Apalagi jika karakter suami yang di hadapi tidak kooperatif. Tapi sebagai wanita beriman, keutuhan keluarga harus lebih diutamakan. Sehingga tidak perlu berpisah jika suami tidak mendukung karier istri. Tetap berbuat baik pada suami, dan tunggu Tuhan yang menentukan kalau bukan suamimu yang berubah menjadi baik atau Tuhan akan mempertemukanmu dengan orang yang lebih baik”. Sebagaimana dikatakan dikatakan Motivator Bapak Mario Teguh (Mario Teguh Golden Ways).

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proud Of You, IRT

Pensiun Tidak Menderita